Alam raya yang dihuni jutaan manusia adalah anugrah yang patut dihargai dan dinikmati keberadaannya. Namun, tak sepenuhnya manusia semena-mena terhadap apa yang ada di alam ini. Konsekwensi yang diambil manusia adalah mereka wajib hukumnya untuk menjaganya. Seperti diketahui, alam ini adalah jaring kehidupan yang semua komponen penyusunnya saling terkait. Tak ada satu pun komponen di alam ini yang dapat berdiri sendiri.
Keterkaitan itu menjaga keseimbangan alam dan juga memastikan kualitas hidup. Jadi jika salah satu komponen mengalami gangguan, dapat dipastikan akan terjadi ketidakseimbangan alam, semisal air sebagai sumber kehidupan mengalami penipisan persediaan di dalam perut bumi maka komponen lain yang ada di alam ini tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Apa yang terjadi di beberapa wilayah hutan Indonesia merupakan apa yang disebut dengan penurunan fungsi ekologis. Hutan yang seharunya dilindungi dan dijaga kelestariannya, kini hanyalah tempat pemukiman dan ladang terbuka. Dengan mudah, manusia mengubahnya tanpa mengembalikan sesuai dengan fungsinya.
Secara global, hutan menjadi rusak. Tak disadari, tanah sebagai media tanam dan juga sumber nutrisi bagi tanaman juga mengalami penurunan kualitas ketika terjadi perambahan hutan dan penebangan hutan. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya usaha mengembalikan ke semula. Dengan lolosnya nutrisi dalam tanah dan berubahnya struktur tanah, membawa tanah ke dalam sebuah kondisi yang disebut dengan penggurunan. Tak akan ada tanaman yang mampu bertahan hidup di tanah ini. Sesuai dengan namanya, kondisi tanah mengalami perubahan dan fungsi utama tanah pun hilang.
Upaya konservasi perlu ditawarkan ke segala pihak mengingat tanggung jawab menjaga kelestarian alam adalah milik semua penghuni planet ini. Konservasi, yang berarti menjaga, perlu ditanamkan di setiap pikiran manusia. Penanaman konsep yang kuat mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui konservasi alam perlu dilakukan sejak dini. Artinya, seorang anak diberikan modal yang kuat mengenai menjaga lingkungan sekitar.
Konservasi sejak usia dini memberikan masukan yang sangat berarti bagi keberlanjutan kehidupan di masa yang akan datang. Anak, bukan saja mengetahui mana yang harus dan tidak dilakukan terhadap lingkungan mereka tetapi juga diajak untuk melakukan tindakan nyata terhadap proses perbaikan lingkungan.
Sebagai upaya menangani penurunan fungsi tanah, anak diajak menanam apa saja yang mereka suka. Dengan demikian, struktur dan nutrisi dalam tanah akan dalam kondisi semestinya.
Pendekatan secara formal maupun informal merupakan hal mutlak dalam kegiatan ini. Di sekolah, seorang guru seharusnya membebankan satu tanaman untuk ditanam, dirawat, dan dikontrol. Di keluarga, penanaman dapat dilakukan secara bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain.
0 komentar:
Posting Komentar